Selasa, 23 Agustus 2016

SEJARAH BENTENG VREDEBURG DI YOGYAKARTA |‪ wisata bersama #‎KiAgungPrestiseHotel‬

SEJARAH BENTENG VREDEBURG DI YOGYAKARTA  |‪ wisata bersama #‎KiAgungPrestiseHotel‬


‎KiAgungPrestiseHotel‬ |Museum Benteng Vredeburg yang terletak di Jalan Ahmad Yani No. 6, Yogyakarta, gedung ini  merupakan salah satu objek wisata yang sayang bila kita lewatkan pada waktu kita mengunjungi Kota Daerah Istimewah Yogyakarta. Jalan Ahmad yani ini berujung di Alun-alun Utara yang menajdi halaman utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dan bila kita menyelusuri jalan Malioboro kita akan mengakhiri perjalanan kita di Benteng tersebut sebelum menyeberang untuk mencapai Alun-alun.


Bangunan yang terletak di ujung Jalan Malioboro ini merupakan satu saksi dari perjalanan sejarah perjuangan Yogyakarta menentang kolonialisme Belanda. Benteng ini dibangun oleh pemerintah Belanda guna melindungi rumah Residen Belanda (sekarang menjadi Gedung Agung) dan pemukiman orang-orang Belanda dari kemungkinan serangan meriam milik Keraton Yogyakarta. Sebelum dibangun menjadi benteng, di tahun 1761 tempat ini merupakan parit perlindungan atau bunker bagi tentara Belanda atau lebih dikenal dengan sebutan Rusten Burg.



Benteng Vredeburg didirikan pada tahun 1760 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I (HB I) atas permintaan pemerintah Belanda. Maksud Belanda adalah untuk menjaga keamanan Sultan Yogyakarta. Dan menurut informasi yang penulis dapatkan dari pihak penerangan Museum Benteng Vredeburg mengenai fungsi dan awal kegunaan Benteng Vredeburg ini di bangun adalah, agar Belanda dapat mudah memantau gerak-gerik Sultan. Karena pada waktu itu di dalam Benteng ada meriam yang mengarah ke Kraton Yogyakarta.




















Meriam tersebut untuk berjaga-jaga kalau Sultan dan ratusan prajuritnya sewaktu-waktu memberontak terhadap pemerintahan kolonial. jarak Keraton Yogyakarta dan Benteng Vredeburg berjarak sepelemparan meriam, yang tentunya akan sangat memudahkan pihak Belanda melakukan perlawanan pada waktu itu.


Bentuk awal bangunan Benteng Vrederburg sangat sederhana, berbentuk bujur sangkar dengan tempat penjagaan bastion di setiap sudut. masing-masing bastion bernama Jayawisesa (barat laut), Jayapurusa (timur laut), Jayaprakosaningprang (barat daya), Jayaprayitna (tenggara).


Di tahun 1765, Frans Haak mengubahnya menjadi benteng dengan mengambil model benteng di daratan Eropa. Ini bisa dilihat dari ciri parit dalam yang mengelilingi banteng, kemudian ada menara pengawas di setiap sudutnya dan tembok lebar yang memungkinkan para serdadu berpatroli diatasnya dan menembak dari tempat itu. Hingga kini, semua itu masih bisa disaksikan. Karena penguasa Yogyakarta tidak berkenan dengan pembangunan benteng ini maka dibutuhkan waktu 23 tahun untuk menyelesaikannya, hal ini terjadi karena kurangnya suplai tenaga kerja dari penduduk lokal.


Dalam perjalanan sejarahnya, benteng ini sering dijadikan tempat penahanan pemimpin-pemimpin Yogya yang membangkang terhadap pemerintah kolonial Belanda sebelum dibuang ke luar Pulau Jawa. Di tempat ini pula kolaborator Belanda yang masih kerabat Sultan, Danurejo IV merancang taktik untuk menangkap Pangeran Diponegoro, putra tertua Sultan Hamengku Buwono III yang menentang Belanda.


Pada jaman Gubernur Belanda W.H Ossenberg, bangunan ini diusulkan agar dibuat pemanen, dengan suatu alasan agar keamanan lebih terjamin. Maka dimulailah penyempurnaan benteng yang ternyata memakan wkatu yang tidak sedikit, yakni dari tahun 1769 sampai dengan 1787. Setelah selesai disempurnakan benteng ini diberinama Rustenburg yang berarti "benteng peristirahatan".


Lamanya proses pengerjaaan benteng pada waktu itu dikarenakan Sultan sedang disibukkan dengan pembangunan Keraton Yogyakarta pada tahun 1775, dan Sultan HB I sendirilah yang menjadikan arsiteknya. Pembangunan Keraton Yogyakarta tidak lepas dari peristiwa pemisahan Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta yang diperintah Sunan Pakubuwono III dan Kesultanan Ngayogyakarta yang diperintah Pangeran mangkubumi, akibat Perjanjian Giyanti (1755). Setelah Perjanjian Giyanti, pesanggrahan Ayodya dibangun menjadi Keraton Kasultanan Ngayogyakarta.


Rustenburg yang sempat dijadikan markas pertahanan VOC ini mengalami kerusakan ketika Yogyakarta dilanda gempa pada tahun 1867. Setelah diadakan peraikan, Rustenburg diberi nama baru, yaitu "Vredeburg" yang berarti "benteng perdamaian".


Nama Vredeburg menunjukkan bahwa hubungan Belanda dan Keraton Yogyakarta memang tidak pernah akur, bahkan saling menyerang. Meriam yang diarahkan ke Kraton ini disiagakan lagi pada masa revolusi, tepatnya Desember 1948, ketika Yogyakarta jadi ibu Kota Negara Republik Indonesia. Saat itu, Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) menyediakan Keraton sebagai tempat gerilyawan Tentara Nasional Indonesia (TNI) berkumpul. Para perwisra banyak yang menyamar menjadi abdi dalem Kerton Yogyakarta pada waktu itu.


Strategi itu digunakan oleh Sultan dikarenakan Sultan tahu bahwa Keraton tempat yang aman bagi gerilyawan dan tidak akan diserang Belanda, dan Sultan HB IX tahu karena Ratu Wilhelmina di Belanda sudah berpesan kepada tentara Belanda untuk tidak mengganggu Sultan dan teman-temannya. Maka terbungkamlah meriam yang selama ini dipersiapkan oleh Belanda di Benteng Vredeburg.


Dalam catatatan informasi yang penulis dapatkan mengenai Benteng Vredeburg paska kemerdekaan, benteng vredeburg pernah menjadi markas Garnizun 072 serta Tentara Nasional Indonesia Batalion Infanteri 403. Pada tahun 1981, bangunan ini baru ditetapkan sebagai benda cagar budaya, dan mulai pada tahun 1992 secara resmi ditetapkan sebagai Museum Khusus Sejarah Sejarah Perjuangan Nasional Museum Benteng Vrederburg Yogyakarta. dengan nama


Di seberang Benteng Vrederburd terdapat Gedung Agung yang masa revolusi dulu merupakan Istana Presiden Republik Indonesia, ketika Yogyakarta menjadi Ibu Kota Indonesia pada tahun 1946 - 1949. Dengan mengunjungi Benteng Vredeburg kita bukan hanya melihat diorama dan foto dari masa Pangeran Diponegoro hingga masa revolusi, namun kita juga dapat mengamati betapa bangunan tua tersebut demikian terawatnya, taman yang indah yetpangkas rapi berikut tersedianya bangku yaman yang terbuat dari beton. Cat dindingnya terus diperbaruhi dan tidak dibiarkan menajdi lusuh.


Pada setiap banguan di dalam lokasi Benteng Vredeburg tertempel keterangan fungsi bangunan tersebut sebelumnya, seperti gudang mesiu, gudang senjata berat, perumahan perwira, gedung pengapit, dan pintu gerbang. Gedung apit yang dulunya merupakan kantor administrasi kompleks Benteng Vredeburg, dan banguanan ini merupakan bentuk aslinya dengan segala ornamen gaya Yunani masa Renaisans, yang menunjukkan usianya lebih tua dibandingkan bangunan lainnya.


Kita bisa berkeliling di atas dinding Benteng Vredeburg. Dengan memperhatikan dinding ruang pengintaian yang bopeng bekas peluru tembakan. dan dari atas Benteng Vredeburg kita bisa melepas pemandangan sekeliling kita untuk melihat pemandangan.


Bila kita lelah berkeliling Benteng Vredeburg maka kita bisa beristirahat di sekeliling Benteng Vredeburg yang ditanami pohon rimbun di atas Benteng Vredeburg sambil melihat lalu lintas Kota Yogyakarta dan keindahan gedung-gedung tua di perempatan jalan ahmad Yani, Yogyakarta.


LIBURAN ...ASIKNYA KE YOGYAKARTA ajaa..,tapi mencari tempat buat istirahat dan menginap tidak usaha khawatir karena Bersama ‪#‎KiAgungPrestiseHotel‬ , hotel di yogyakarta dengan harga yang relatif terjangkau Cuma dengan 95K s/d 182K,- anda bisa menginap di #KiAgungPrestiseHotel dan menikmati fasilitas yang berkelas dan berkhwalitas .

Untuk reservasi silahkan hubungi kami:

Hotel Line :
0822-2550-1169
0857-4356-8830
0274-374412
BB : Dob6A21F
Alamat : Jl.Prawirotaman 2 ,MG 3 No.596A,Mergangsan ,Yogyakarta. INDONESIA

Senin, 22 Agustus 2016

Keindahan Alam Jogja Gak ada Habisnya | wisata bersama #‎KiAgungPrestiseHotel‬



LIBURAN ...ASIKNYA KE YOGYAKARTA ajaa..,tapi mencari tempat buat istirahat dan menginap tidak usaha khawatir karena Bersama ‪#‎KiAgungPrestiseHotel‬ , hotel di yogyakarta dengan harga yang relatif terjangkau Cuma dengan 95K s/d 182K,- anda bisa menginap di #KiAgungPrestiseHotel dan menikmati fasilitas yang berkelas dan berkhwalitas .


Untuk reservasi silahkan hubungi kami:

Hotel Line :
0822-2550-1169
0857-4356-8830
0274-374412
BB : Dob6A21F
Alamat : Jl.Prawirotaman 2 ,MG 3 No.596A,Mergangsan ,Yogyakarta. INDONESIA

wisata menakjubkan di yogyakarta |‪ wisata bersama #‎KiAgungPrestiseHotel‬


wisata menakjubkan di yogyakarta |‪ wisata bersama #‎KiAgungPrestiseHotel‬. 



LIBURAN ...ASIKNYA KE YOGYAKARTA ajaa..,tapi mencari tempat buat istirahat dan menginap tidak usaha khawatir karena Bersama ‪#‎KiAgungPrestiseHotel‬ , hotel di yogyakarta dengan harga yang relatif terjangkau Cuma dengan 95K s/d 182K,- anda bisa menginap di #KiAgungPrestiseHotel dan menikmati fasilitas yang berkelas dan berkhwalitas .

Untuk reservasi silahkan hubungi kami:

Hotel Line :
0822-2550-1169
0857-4356-8830
0274-374412
BB : Dob6A21F
Alamat : Jl.Prawirotaman 2 ,MG 3 No.596A,Mergangsan ,Yogyakarta. INDONESIA

Minggu, 21 Agustus 2016

MELEPAS PENAT DI EMBUNG TAMBAKBOYO ,YOGYAKARTA. Bersama ‪#‎KiAgungPrestiseHotel‬

MELEPAS PENAT DI EMBUNG TAMBAKBOYO 

,yogyakarta.


Bersama ‪#‎KiAgungPrestiseHotel‬


Bukan hanya melepas lelah di tepian waduk berair jernih nan hijau, pengunjung dapat berolahraga atau menyalurkan hobi disini. Udaranya masih cukup bersih karena lokasinya di pinggiran perkampungan dengan pepohonan yang masih rimbun menghijau. Di sekeliling waduk, dibangun jalan yang cukup lebar, memungkinkan pengunjung beraktivitas santai. Pilihannya bisa jogging, sekedar jalan santai atau bersepeda.
Bagi yang gemar memancing, tak ada salahnya membawa peralatan memancing saat kesini. Menurut informasi warga sekitar, Embung Tambakboyo cukup kaya dengan aneka jenis ikan. Mulai dari wader, nila, lele dan bahkan gurameh. Konon, beberapa kali pemerintah melepas berkantung-kantung bibit ikan di embung ini, sebagai bagian dari upaya menyediakan sarana hiburan bagi masyarakat umum.
Embung Tambakboyo, terletak diantara tiga Desa yaitu Condongcatur, Maguwo dan Wedomartani. Perencanaan  pembangunan dari embung ini telah berjalan sejak tahun 2003 selama 5 tahun sampai tahun 2008 dan saat ini telah selesai pengerjaannya. Dengan biaya Rp. 51.572.005.245.












Waduk yang luasnya 7,8 hektar dan volume tampungan sekitar 400.000 m3 ini memiliki wilayah yang cukup luas. Debit sungai pada musim kemarau sekitar 150 lt/det dengan kedalaman air rata-rata sekita 7 m. Jalan inspeksi embung tersebut memiliki panjang 1.769 m dengan lebar 6 m. Dengan fungsi utama sebagai cadangan dan resapan air tanah untuk warga Bantul, Sleman, Yogyakarta. Waduk ini juga berfungsi sebagai sarana pengairan, dan cadangan air untuk PDAM dimasa mendatang.
Tempat berolah raga yang biasa digunakan adalah jalan berkonblok yang memiliki jarak yang cukup jauh. Hal yang menarik adalah pemandangan sekitar yang cukup indah. Selain itu terdapat juga penginapan disekitar Embung yang dapat digunakan untuk menginap apabila anda berasal dari luar kota.
Wilayah sekitar waduk ini telah didesain khusus dengan rapi sehingga memiliki pemandangan yang indah. Nah, bila keputusannya adalah ke Embung Tambakboyo, maka Anda tinggal menuju arah Utara dari Ringroad Utara depan Kampus Universitas Pembangunan Nasional. Dari simpang empat Ringroad, lokasi embung hanya berjarak sekitar 1 kilometer saja.

KOORDINAT

7°45’18″S   110°24’50″E

LOKASI

Embung Tambakboyo berlokasi di Dusun Tambakboyo, Kecamatan Depok Kabupaten
Sleman, tepatnya berada di hilir Sungai Tambakboyo dan Buntung. Untuk mencapai lokasi tersebut, dari perempatan ring road UPN Veteran Jogja masuk kearah utara sekitar limaratus meter, setelah ketemu perumahan Mataram Bumi Sejahtera (MBS) masuk ke
arah timur sedikit.

TARIF

Untuk sepeda motor dikenakan tarif Rp 1.000. Mobil Rp 2.000

 POTENSI

Embung Tambakboyo berdekatan dengan Candi Gebang dan Stadion Maguwoharjo Sleman yang bertaraf internasional. Bila gemar suasana alam, maka Anda juga bisa turun ke bagian bawa waduk untuk menyusuri aliran sungai Tambakboyo.
Tips : 
Sekalipun banyak pepohonan, tidak ada salahnya Anda memilih waktu pagi atau sore hari bila ingin ke Embung Tambakboyo. Sekedar untuk menghindari sengatan sinar matahari di siang hari. Ingin datang bersama keluarga, bisa juga membawa tikar sekaligus makanan dan minuman sehingga bisa bersantai sembari menikmati masakan dari rumah. Waduk ini cukup dalam. Titik paling dalam mencapai sekitar 7 meter. Jadi awasi putra putri Anda dengan baik.
Bila anda Liburan atau mampir ke Yogyakarta , gak usah khawatir akan Penginapan / Hotel Di Yogyakarta . karena Bersama ‪#‎KiAgungPrestiseHotel‬ , hotel di yogyakarta dengan harga yang relatif terjangkau Cuma dengan Rp. 97.500 ,- s/d Rp. 182.000,- anda bisa menginap di #KiAgungPrestiseHotel dan menikmati fasilitasnya .




Untuk reservasi silahkan hubungi kami:

Hotel Line :
0822-2550-1169
0857-4356-8830
0274-374412
BB : Dob6A21F
Alamat : Jl.Prawirotaman 2 ,MG 3 No.596A,Mergangsan ,Yogyakarta.

Sabtu, 20 Agustus 2016

KE GUWOSARI YOGYAKARTA , WAJIB KE CURUG PULOSARI YANG BEGITU MEMPESONA . Bersama ‪#‎KiAgungPrestiseHotel‬

KE GUWOSARI YOGYAKARTA , WAJIB KE CURUG PULOSARI 

YANG BEGITU MEMPESONA .

 Bersama ‪#‎KiAgungPrestiseHotel‬



Guwosari, adalah kawasan perbukitan di sisi barat Bantul. Dari ibukota kabupaten, perbukitan ini bisa ditempuh hanya dalam tempo sekitar 15-20 menit naik sepeda motor. Kalau Anda naik mobil, maka waktu tempuhnya otomatis akan lebih lama.


Perjalanan ke Guwosari, dulu lebih karena keberadaan Desa Wisata Krebet-sentra kerajinan batik kayu di Bantul. Saat petang atau malam, ada pula yang naik ke perbukitan ini karena ingin sekadar menikmati view Jogja di malam hari yang bertebaran dengan kerlap kerlip lampu di kejauhan. Tapi belakangan, alasan untuk naik ke perbukitan ini bertambah. Curug Pulosari!!!.  









  

Curug Pulosari, sejatinya adalah air terjun yang bersumber dari aliran air sungai alami di kawasan perbukitan ini. Air terjun di Curug Pulosari terbilang kecil. Jangan membayangkan seperti air terjun lain yang sudah lebih dikenal seperti di Tawangmangu misalnya. Tapi, keindahan tetap saja tersaji. Terlebih lokasi ini berada di tengah kawasan perbukitan yang selama ini dikenal kering.

Secara lokasi, Jurang atau Curug Pulosari berada di lembah yang cukup dalam dan dikelilingi bukit batu dan tanah yang tandus. Untuk mencapai lokasi ini, Anda harus rela berjalan kaki sejauh sekitar 100 meter, menuruni jalan bebatuan yang terjal da tepian sungai. Tapi jangan khawatir, sejak ditemukan inisiatif warga terus muncul. Salah satunya adalah dibangunnya bale-bale yang bisa menjadi tempat singgah dan beristirahat yang nyaman. Bale-bale ini, diantaranya bisa ditemui di Bukit Cinta atau di Gua Cethathuk- di kawasan hutan kecil dimana tumbuh pohon-pohon secang.

Merunut pada cerita, gagasan untuk mengenalkan Air Terjun di Jurang Pulosari awalnya muncul dari warga luar daerah yang hobi trail. Para pecinta off road roda dua ini konon kerap menyalurkan hobinya di sekitar kawasan Desa Krebet termasuk di sekitar aliran sungai di Curug Pulosari. Gagasan inipun disambut masyarakat sekitar, yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai perajin topeng kayu dan kerajinan kayu lainnya. Maka, secara swadaya masyarakat kemudian mencoba melakukan penataan termasuk membuat jalur jalan yang lebih baik, lengkap dengan sejumlah papan penunjuk ke lokasi.

Penataan yang dilakukan secara swadaya ini, membuat Jurang Pulosari lebih mudah diakses. Selepas Desa Wisata Krebet, pengunjung cukup mengikuti papan penunjuk arah yang sudah terpasang. Atau bila ragu, bertanya ke warga juga lebih baik karena sambutan warga pasti sangat ramah. Saat ini, pengunjung juga tidak perlu jauh berjalan kaki. Tak heran, kawasan ini mulai dikenal luas, dan bisa dipastikan setiap akhir pekan cukup banyak pelancong yang ingin melihatnya. 

Sentuhan penataan secara swadaya ini, menjadikan kawasan Pulosari tetap terjaga alami. Tidak ada bangunan permanen. Demikian pula akses jalan, dibuat dengan cor beton membujur dua jalur. Hal inilah yang membuat komunitas pecinta off road lebih senang. Mereka tetap bisa menyalurkan hobinya dengan lebih leluasa.

Lokasi : Desa Wisata Krebet, Pajangan, Bantul. Lokasi ini dapat dijangkau dari sejumlah arah. Bisa dari Kasongan, dari Madukismo ataupun dari ibukota kabupaten Bantul. Panduan utamanya adalah, terus saja naik menuju ke Guwosari dimana Desa Wisata Krebet berada.
Tiket : Masuk ke lokasi Curug Pulosari masih gratis. Pengunjung bisa menitipkan kendaraannya di rumah penduduk dengan tariff hanya Rp 2.000

Fasilitas : Tersedia sejumlah gazebo, tempat duduk dan warung-warung yang dikelola secara mandiri oleh warga. Untuk oleh-oleh, Anda bisa memilih berbagai jenis kerajinan di Desa Wisata Krebet. Oleh-oleh lainnya, bisa berupa buah asam Jawa, atau buah sawo saat musim panen.

Tips : Sebaiknya datang ke lokasi ini saat musim penghujan. Saat itulah air mengalir cukup deras sehingga air terjunnya bisa terlihat maksimal. Hati-hati, karena saat musim penghujan jalanan menjadi licin. Gunakan sepatu lapangan dan topi, juga pakaian ganti.

Alternatif Lain : Obyek ini berada di satu jalur dengan sentra gerabah Kasongan, Desa Wisata Kerajinan Batik Kayu Krebet, Pabrik Gula Madukismo dan Gua Selarong. Tidak terlalu jauh juga terdapat Kampung Ingkung dimana pelancong bisa merasakan menu istimewa berupa ayam ingkung yang biasa menjadi menu utama kenduri di masyarakat Jawa. Untuk obyek yang serupa, ada juga Curug Banyunibo yang hanya berjarak sekitar.


Bila anda Liburan atau mampir ke Yogyakarta , gak usah khawatir akan Penginapan / Hotel Di Yogyakarta . karena Bersama ‪#‎KiAgungPrestiseHotel‬ , hotel di yogyakarta dengan harga yang relatif terjangkau Cuma dengan Rp. 97.500 ,- s/d Rp. 182.000,- anda bisa menginap di #KiAgungPrestiseHotel dan menikmati fasilitasnya .

Untuk reservasi silahkan hubungi kami:

Hotel Line :
0822-2550-1169
0857-4356-8830
0274-374412
BB : Dob6A21F
Alamat : Jl.Prawirotaman 2 ,MG 3 No.596A,Mergangsan ,Yogyakarta.

Goa Cerme di Yogyakarta, Antara Mistis dan Keindahan Alam Bersama ‪#‎KiAgungPrestiseHotel‬

Goa Cerme di Bantul Yogyakarta, Antara Mistis dan Keindahan Alam 

Bersama ‪#‎KiAgungPrestiseHotel‬



Bantul Yogyakarta - Liburan akhir tahun ke Yogyakarta, jangan hanya ke Malioboro atau Keraton Yogya saja. Masih banyak destinasi yang menarik di sana, seperti salah satunya adalah Goa Cerme. Konon, gua yang indah ini punya kekuatan mistis!


Obyek-obyek wisata di Yogya selain pantai, adalah gua yang jumlahnya cukup banyak. Salah satu gua yang wajib didatangi adalah Goa Cerme. Goa Cerme tidak hanya menyuguhkan keindahan alam, tetapi juga sejarah dan kekuatan mistis di dalamnya.














Goa Cerme terletak di atas ketinggian 500 meter dari permukaan laut. Gua ini dulunya, menjadi tempat pertemuan Walisongo yang membahas dakwah Islam dan membahas pendirian Masjid Demak. Goa Cerme terletak di dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul atau sekitar 20 km selatan Kota Yogyakarta.



Untuk menuju ke gua ini, akses jalan memang cukup menantang. Jalan yang naik turun, berkelok, berukuran kecil, dan situasi pegunungan yang masih asri menjadi sensasi tersendiri.



Goa Cerme tidak hanya menawarkan keindahan alam stalagtit dan stalagmit dan adanya sungai bawah tanah. Tetapi, gua yang memiliki panjang 1,5 km yang tembus hingga ke Kabupaten Gunungkidul ini, juga menawarkan kekuatan mistis. Karena gua ini, sampai sekarang juga masih digunakan untuk ritual bertapa.



Rusandi Noor (23), wisatawan asal Samarinda yang mecoba menelusuri gua mengaku merasakan aura mistis yang kuat di dalam Goa. Di tengah gua, ia mencium bau dupa yang wangi dan orang yang sedang bertapa.



"Serunya itu, jalannya sampai 1,5 kilometer, tinggi air di dalam, terus airnya bersih dan bisa di minum. Saya minum tadi. Mistisnya juga kenceng, ada bau dupa dan ketemu orang bertapa di dalam. Didalam gelap banget, harus pake lampu," kata Rusandi di Goa Cerme, Bantul, DIY, Jumat(26/12/2014) kemarin.



Koordinator pos masuk Goa Cerme, Ngadilan mengatakan, pada libur Natal dan Tahun Baru jumlahnya pengunjungnya memang meningkat. Biasanya sehari hanya 20-an orang, tapi kini meningkat jadi 150-an orang per hari. Pengunjung yang masuk harus dipandu oleh tim pemandu. Apalagi di dalam sangat gelap dan ketinggian air yang berbeda. Ada yang cukup dalam, selain itu juga ada cabang-cabangnya.



"Yang datang kebanyakan pelajar, mahasiswa, kemudian wisatawan asing. Untuk yang ritual juga banyak, kebanyakan dari luar daerah Yogya, ada yang menginap,"kata Ngadilan.



Goa Cerme sendiri berasal dari kata ceramah yang digunakan Walisongo untuk berdakwa. Di sekitar Goa Cerme ini terdapat beberapa gua yang ukuranya lebih kecil.



Retiribusi untuk masuk kawasan gua ini sebesar Rp 3 ribu termasuk asuransi sebesar Rp 250. Sementara untuk jasa pemandu yang dikelola oleh warga sekitar sebesar Rp 50 ribu untuk rombongan di bawah 15 orang. Untuk 15 orang ke atas, per orang sebesar Rp 4 ribu.


Bila anda Liburan atau mampir ke Yogyakarta , gak usah khawatir akan Penginapan / Hotel Di Yogyakarta . karena Bersama ‪#‎KiAgungPrestiseHotel‬ , hotel di yogyakarta dengan harga yang relatif terjangkau Cuma dengan Rp. 97.500 ,- s/d Rp. 182.000,- anda bisa menginap di #KiAgungPrestiseHotel dan menikmati fasilitasnya .


Untuk reservasi silahkan hubungi kami:

Hotel Line :
0822-2550-1169
0857-4356-8830
0274-374412
BB : Dob6A21F
Alamat : Jl.Prawirotaman 2 ,MG 3 No.596A,Mergangsan ,Yogyakarta.